Sabtu, 29 April 2017

Memahami surat al imron ayat 7.

BACA SAMPE TUNTAS PENTING..

Begini memahami surat al imron ayat 7.
Allah berfirman :
وما يعلم تأويله إلا الله
Dan tidak ada yg tau takwil nya kecuali allah.

Lafadz takwil dalam ayat tersebut maksud nya adalah makna. Sebagaimana dikatakan dalam tafsir ath thabari :
الجامع البيان عن تأويل آي القرآن
Kumpulan penjelasan tentang takwil ayat al quran.
Maksudnya :
Kumpulan penjelasan tentang makna ayat al quran.

Sehingga maksud ayat tersebut adalah : dan tidak ada yg tau maknanya kecuali Allah.
Dgn pemahaman inilah jumhur salaf mentafwidh makna ayat mutasyabihat, sebagai mana yg dikatakan adz dzahabi :
وتفويض معناه إلى قائله
Dan mentafwidh maknanya kepada yg mengatakannya.
Kitab siyar a'lam an nubala.

Jdi sangat salah sekali jika memahami perkataan imam malik istawa ma'lum maksudnya yg diketahui maknanya.

Kemudian ulama yg mentakwil (menentukan makna majaz) menyambung lafadz berikutnya didalam ayat dgn wau athaf, bukan wau isti'naf, sehingga maksud ayat :
وما يعلم تأويله إلا الله والراسخون في العلم
Dan tidak ada yg tau takwilnya kecuali allah dan orang orang yg teguh didalam ilmu.
Ulama salaf yg menempuh jalan ini adalah ibnu abbas dan ibnu jarir didalam sifat istawa, imam malik (khusus didalam hadits nuzul) dan imam ahmad (khusus didalam ayat : dan telah datang rabb mu, maksudnya pahalanya.) Dan imam bukhari (khusus didalam sifat al wajh) dan selainnya.

Jadi sangat keliru sekali jikA mutlak menolak takwil.

Kemudian penjelasan dari ibnu katsir :
Karena itulah Allah Swt. berfirman:

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan. (Ali Imran: 7)

Yakni kesesatan dan menyimpang dari perkara yang hak, menyukai perkara yang batil.

فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشابَهَ مِنْهُ

Maka mereka mengikuti ayat yang mutasyabihat darinya. (Ali Imran: 7)

Yaitu sesungguhnya mereka hanya mau mengambil yang mutasyabihnya saja, karena dengan yang mutasyabih itu memungkinkan bagi mereka untuk membelokkannya sesuai dengan tujuan-tujuan mereka yang rusak, lalu mereka mengartikannya dengan pengertian tersebut, mengingat lafaznya mirip dengan pengertian mereka yang menyimpang. Terhadap yang muhkam, maka tidak ada jalan bagi mereka untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan padanya, karena yang muhkam merupakan hujah yang mematahkan alasan mereka dan dapat membungkam mereka.

Karena itulah Allah Swt. berfirman:

ابْتِغاءَ الْفِتْنَةِ

untuk menimbulkan fitnah. (Ali Imran: 7)

Yaitu untuk menyesatkan para pengikut mereka dengan cara memakai Al-Qur'an sebagai hujah mereka untuk mengelabui para pengikutnya terhadap bid'ah yang mereka lakukan. Padahal kenyataannya hal tersebut merupakan hujah yang menghantam mereka dan sama sekali bukan hujah yang mereka peralat. Perihalnya sama dengan masalah seandainya orang-orang Nasrani mengemukakan hujahnya 'Al-Qur'an telah menyebutkan bahwa Isa adalah roh (ciptaan) Allah dan kalimat (perintah)-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan roh dari Allah', tetapi mereka mengesampingkan firman-Nya yang mengatakan:

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنا عَلَيْهِ

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian). (Az-Zukhruf: 59)

إِنَّ مَثَلَ عِيسى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرابٍ ثُمَّ قالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya misal (penciptaan) isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (Ali Imran: 59)

Dan ayat-ayat lainnya yang muhkam lagi jelas menunjukkan bahwa Isa adalah salah seorang dari makhluk Allah, dan merupakan seorang hamba serta seorang rasul di antara rasul-rasul Allah.

Tambahan penjelasan dari saya :
Bid'ah yg dimaksud ibnu katsir adalah bid'ah didalam akidah.
Ibnu katsir memberi contoh org nashrani yg mengikuti ayat mutsyabihat, kemudian akhirnya mereka mensifati allah dgn sifat mahluk (sifat yg baru) yg tidak ada di zaman azaliy. Org nasrani meyakini allah menjelma jadi nabi isa, artinya sifat allah berubah, dan setiap yg berubah adalah baru.

Demikian hal nya wahabi mensifati allah dgn sifat "berada di atas arsy" yg demikian adalah sifat yg baru, krn sifat tersebut tidak ada tatkla arsy dan seluruh mahluk belum diciptakan.
Tatkala dijelaskan ttg demikian wahabi berhujjah :
"Allah maha kuasa sesuai kehendaknya.."
Mirip sekali dgn hujjah nya nashrani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar