Senin, 24 April 2017

Hadits Jariah ( budak wanita )

KAJIAN KITAB AL ASMA WA SIFAT. IMAM BAIHAQIY.

Kali ini membahas hadits yg mahsyur dikalangan mujassimah, yaitu hadits budak wanita, yg ditanya : dimana Allah ? lalu menjawab di atas langit. Riwayat muslim dari mu'awiyah bin al hakam.
Imam baihaqi mengatakan bahwa kisah tsb ditinggalkan, tdk bisa dijadikan hujjah didalam akidah, apa alasannya ? ini penjelasan dari beliau :
ﻭﺃﻇﻨﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻻﺧﺘﻼﻑ اﻟﺮﻭاﺓ ﻓﻲ ﻟﻔﻈﻪ. ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮﺕ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ اﻟﻈﻬﺎﺭ ﻣﻦ اﻟﺴﻨﻦ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻣﻦ ﺧﺎﻟﻒ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ اﻟﺤﻜﻢ ﻓﻲ ﻟﻔﻆ اﻟﺤﺪﻳﺚ


Dan aku menduga yg demikian, pastinya kisah budak wanita telah ditinggalkan dari hadits karena perbedaan riwayat di dalam lafadznya. Aku telah menuturkan di dalam kitab adz dzihar didalam kitab as sunan perbedaan perawi yg menyalahi mu'awiyah bin al hakam didalam lafadz hadits.

Didalam kitab sunan al kubro dituturkan pebedaan lafadz lafadz tersebut dengan sanad sanad nya, ringkasannya :
1. dengan lafadz di mana allah, lalu di jawab di atas langit.
2. dengan lafadz di mana allah, lalu di jawab dengan isyarat ke atas langit.
3. dengan lafadz : siapa tuhan mu, lalu dijawab : allah tuhan ku.
4. dengan lafadz : apakah kamu bersaksi tiada tuhan selain Allah, lalu di jawab : iya.
5. dengan lafadz : siapa tuhan mu, lalu di jawab : Allah.

yg demikian disebut hadits idhtirob, dan tidak dapat dijadikan hujjah didalam akidah.

jika dilihat “Shohih Muslim“, kita dapati bahawa Imam Muslim rhm sendiri tidak meletakkan hadits ini dalam kitab al-iman atau bab-bab yang berhubung dengan keimanan dan pegangan aqidah tetapi beliau meletakkannya dalam bab fiqh berhubung hukum hakam sembahyang iaitu kitab al-masaajid wa mawaadhi` ash-sholaah, bab tahriim al-kalaam fi ash-sholaah wa nasakha maa kaana min ibaahatih (kitab mengenai masjid-masjid dan tempat-tempat sembahyang, bab haram berkata-kata dalam sembahyang serta menasakhkan riwayat yang mengharuskan berkata-kata dalamnya). Maka isyaratnya ialah hadits ini hanyalah untuk dijadikan hujjah dalam bab-bab fiqh semata-mata. Menjadikannya sebagai hujjah dalam mensabitkan secara qathi`e akan usul aqidah menunjukkan lemahnya si penghujjah itu daripada memahami uslub dan kaedah dalam menetapkan ‘aqidah pegangan umat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar