بسم الله الرحمن الرحيم
kali ini membahas fitnah keji al mujasimah terhadap imam syafi'i. Mereka memfitnah imam syafi'i seakidah dgn mereka yg meyakini allah berada/menetap di atas arsy.
mujassimah menukil perkataan imam syafi'i dari kitab karya adz dzahabiy :
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah –salah seorang ulama madzhab syafi'iyah- juga berkata :
روى شيخ الإسلام أبو الحسن الهكاري والحافظ أبو محمد المقدسي بإسنادهم إلى أبي ثور وأبي شعيب كلاهما عن الإمام محمد بن إدريس الشافعي ناصر الحديث رحمه الله تعالى قال القول في السنة التي أنا عليها ورأيت عليها الذين رأيتهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وأن الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وينزل إلى السماء الدنيا كيف شاء
"Syaikhul Islam Abul Hasan Al-Hikaari dan Al-Haafizh Abu Muhammad Al-Maqdisi meriwayatkan dengan sanad mereka kepada Abu Tsaur dan Abu Syu'aib, mereka berdua meriwayatkan dari Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i sang penolong hadits rahimahullah ia berkata :
"Perkataan tentang sunnah yang aku berada di atasnya dan aku melihat orang-orang yang aku lihat berada di atasnya seperti Sufyan, Malik, dan selain mereka berdua yaitu mengakui syahadah Laa ilaaha illaallah dan Muhammad Rasulullah, dan bahwasanya Allah berada di atas 'ArsyNya di langit, ia dekat dengan makhukNya sebagaimana yang Ia kehendaki dan ia turun ke langit dunia sebagaimana yang Ia kehendaki" (Al-'Uluw Li Al-'Aliy al-Goffaar hal 165 no 443, atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi wafat 620 H dalam kitabnya Itsbaat Sifat al-'Uluw hal 180 no 92)
Dan yg demikian banyak juga dinukil didalam dakwah-dakwah mereka
dan kita wajib membersihkan nama imam syafi'i dari tuduhan mujassimah.
Sekarang kita lihat perkataan imam syafi'i,
Imam syafi'i berkata :
وأن الله على عرشه
disini imam syafi'i membuang kata istawa (استوى), dan tidak mengatakan istaqarra /استقر (menetap), ini menandakan imam syafi'i memaknai istawa dgn makna tinggi (علا ).
Sehingga terjemahannya yg benar :
Allah di atas arsy.
bukan : allah berada di atas arsy, sebagaimana terjemahan al mujassimah
tidak ada kata "berada" didalam perkataan imam syafi'i. krn maksudnya memang bukan berada di atas, sehingga ada jarak dgn kita di bumi, atau ada jarak dgn arsy. Sebagaimana penjelasan al baihaqiy :
استوى بمعنى علا ولا يراد بذلك علوا بالمسافة والتحيز
istawa dgn makna tinggi, dan maksudnya bukan tinggi dengan jarak dan menetap (berada di atas).
Kemudian perkataan imam syafi'i :
وينزل إلى السماء الدنيا
Dan allah turun kelangit dunia.
Seharusnya disertakan juga penjelasannya, bahwa yg dimaksud adalah menetapkan lafadz nuzul dgn tidak meyakini makna berpindah atau bergerak (dari atas ke bawah) . Sebagaimana penjelasan al baihaqiy :
ﻓﺈﻥ اﻟﺤﺮﻛﺔ ﻭاﻟﺴﻜﻮﻥ ﻭاﻻﺳﺘﻘﺮاﺭ ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺕ اﻷﺟﺴﺎﻡ،
sesungguhnya bergerak, diam, dan menetap/berada (diatas) adalah sebagian dari sifat sifat jisim.
ﻭﻫﻜﺬا ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺃﺧﺒﺎﺭ اﻟﻨﺰﻭﻝ ﺇﻥ اﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻪ ﻓﻌﻞ ﻳﺤﺪﺛﻪ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻓﻲ ﺳﻤﺎء اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻛﻞ ﻟﻴﻠﺔ ﻳﺴﻤﻴﻪ ﻧﺰﻭﻻ ﺑﻼ ﺣﺮﻛﺔ ﻭﻻ ﻧﻘﻠﺔ، ﺗﻌﺎﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﺻﻔﺎﺕ اﻟﻤﺨﻠﻮﻗﻴﻦ
dan sama halnya telah berkata abu hasan al asy'ariy didalam hadits hadits nuzul : sesungguhnya yg dimaksud dengannya adalah perbuatan, allah menciptakan nya didalam langit dunia, allah menamakannya nuzul (turun) bukan bergerak dan bukan berpindah, maha suci allah dari sifat sifat mahluk.
Kitab al asma wa sifat.
Menetap kan sifat di atas tapi menafikan makna menetap, sama hal nya dengan menetapkan sifat nuzul (turun) tapi menafikan makna berpindah atau bergerak.
maka tidak diketahui maksud keduanya atau tidak ada makna bagi keduanya selain makna yg ditafwidh.
Imam baihaqi berkata :
ﻭﺃﺳﻠﻤﻬﺎ اﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﻼ ﻛﻴﻒ ﻭاﻟﺴﻜﻮﺕ ﻋﻦ اﻟﻤﺮاﺩ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﺮﺩ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ اﻟﺼﺎﺩﻕ ﻓﻴﺼﺎﺭ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﻣﻦ اﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ اﺗﻔﺎﻗﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ اﻟﺘﺄﻭﻳﻞ اﻟﻤﻌﻴﻦ ﻏﻴﺮ ﻭاﺟﺐ ﻓﺤﻴﻨﺌﺬ اﻟﺘﻔﻮﻳﺾ ﺃﺳﻠﻢ
Dan yg paling selamat adalah beriman dgn tidak ada kaif dan diam dari apa yg dimaksud. (tidak membahas maksudnya), kecuali ada keterangan ttg maksudnya dari as shadiq rasulullah saw, maka dijadikan padanya maknanya. Dan sebagian dari dalil atas yg demikian itu adalah kesepakatan mereka para ulama ahlussunnah atas sesungguhnya takwil yg ditentukan bukan yg wajib, maka seketika itu tafwidh lebih selamat.
Dinukil oleh ibnu hajar al asqalani didalam kitab fathul baari.
Begitu pun adz dzahabi pemilik kitab al uluw yg kitabnya dinukil oleh al mujassimah, menjelaskan hal yg sama dengan al baihaqiy didalam kitab siyar a'lam sn nubala :
بالمعنى الذي أراد
dgn makna yg allah kehendaki.
dihalaman yg berbeda berkata :
والتفويض معناه إلى قائله
dan mentafwidh maknanya kepada yg mengatakannya.
disini banyak menukil penjelasan Imam baihaqiy, karena beliau adalah orang yg paling tau perjalanan hidup imam syafi'i, dgn kitabnya yg berjudul manaqib imam syafi'i. dan hidupnya tidak jauh dari zaman imam syafi'i. mendapatkan perkataan imam syafi'i dgn sanad dari lisan ke lisan, bukan dari melihat kitab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar