Minggu, 23 April 2017

penetapan sifat al yad yg mana jika di translete kedalam bahasa indonesia artinya tangan

KAJIAN KITAB AL ASMA WA SIFAT. IMAM BAIHAQIY.

بسم الله الرحمن الرحيم
Kali ini membahas penetapan sifat al yad yg mana jika di translete kedalam bahasa indonesia artinya tangan.
Sebelumnya kita harus tau makna al yad secara hakikat (bukan majaz) didalam bahasa :
اليد من أعضاء الجسد وهي من المنكب إلى أطراف الأصابع
al yad adalah sebagian dari anggota badan dari siku sampai ujung ujung jari.
kamus al muhith.
sama halnya makna tangan secara hakikat didalam kamus bahasa indonesia.
Dan banyak riwayat yg sohih dari para salaf yg mana mereka menetapkan sifat al yad tanpa takwil,
Contoh :

وأن له يدين بلا كيف كما قال : { خَلَقْتُ بِيَدَيَّ } [ سورة ص ، الآية : 75 ] .
وكما قال : { بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ } [ سورة المائدة ، الآية : 64 ] .

“Bahwasannya Allah mempunyai dua tangan tanpa perlu ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya), sebagaimana firman-Nya : ‘Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’, dan juga sebagaimana firman-Nya : ‘Akan tetapi kedua tangan-Nya terbuka”.

imam baihaqi menjelaskan :
ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻌﻨﻰ اﻟﻴﺪ ﻓﻲ اﻟﺼﻔﺎﺕ، ﺑﻤﻌﻨﻰ الجارحة ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻮﻫﻢ ﺑﺜﺒﻮﺗﻬﺎ ﺛﺒﻮﺕ اﻷﺻﺎﺑﻊ، ﺑﻞ ﻫﻮ ﺗﻮﻗﻴﻒ ﺷﺮﻋﻲ، ﺃﻃﻠﻘﻨﺎ اﻻﺳﻢ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺟﺎء ﺑﻪ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﻜﻴﻴﻒ ﻭﻻ ﺗﺸﺒﻴﻪ


dan bukanlah makna al yad didalam sifat, dgn makna anggota badan sehingga terpikirkan utk menetapkan jari jari dengan sebab penetapannya. tetapi yg demikian adalah tauqif syar'iy, yaitu : kami memutlakkan (menetapkan) nama (lafadz) didalamnya berdasarkan apa yg ada didalam al quran tanpa menetapkan kaif dan tanpa menyerupakan dgn tanda mahluk.

maksudnya adalah :
Menetapkan lafadz al yad tapi tidak meyakini makna anggota badan, sehingga tidak ada makna baginya selain makna yg ditafwidh.
oleh krn itu jika ada nukilan dari ulama salaf yg menetapkan sifat al yad tanpa takwil, sebaiknya jgn diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, krn akan menyebabkan orang awam meyakini allah punya tangan.
Dan wajib menjelaskan bahwa maksud dari perkataan salaf tersebut adalah disertai dengan mentafwidh maknanya.
قال البيهقي أسلمها الإيمان بلا كيف والسكوت عن المراد
Telah berkata al baihaqi : paling selamat adalah beriman dengan tidak ada kaif dan diam dari apa yg dimaksud (tidak membahas maksudnya).
ﻭﻣﻦ اﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ اﺗﻔﺎﻗﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ اﻟﺘﺄﻭﻳﻞ اﻟﻤﻌﻴﻦ ﻏﻴﺮ ﻭاﺟﺐ ﻓﺤﻴﻨﺌﺬ اﻟﺘﻔﻮﻳﺾ ﺃﺳﻠﻢ
dan sebagian dari dalil atas yg demikian itu adalah kesepakatan mereka atas sesungguhnya takwil yg ditentukan bukan yang wajib, maka seketika itu tafwidh adalah yg paling selamat.
Dinukil oleh ibnu hajar al asqalani didalam kitab fathul baari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar